Red Bobblehead Bunny

Kamis, 14 Mei 2020

Jangan Takut Lambat

Kehidupan  laksana sepeda

Harus dikayuh agar bisa berjalan

Jika engkau hanya berkhayal

Maka engkau hanya akan tetap terdiam

 

Terdiam boleh, terlena jangan

Nikmatilah sejenak segala pencapaian

Setelah itu, lanjutkan perjalanan

 

Walau lambat, teruslah mengayuh

Jangan takut tertinggal

Takutlah jika engkau tidak punya keinginan

 

Jangan lelah, bukankah engkau tidak dapat melihat ujung jalan?

Maka ukirlah perjalanan yang menyenangkan

Bahagiakan mereka yang engkau cintai

Tebarkan kebahagiaan disana sini

Sampai pada akhirnya engkau sadar,

Ujung itu ada didepan mata


Selasa, 12 Mei 2020

Cahaya Pertama Chayati

Tahun 2019 merupakan tahun yang membahagiaan bagi Chayati. Semua berawal di pagi yang indah itu. Chayati berlari tergesa-gesa karena hampir terlambat masuk kerja.

“fyuuh akhirnya..” lega Chayati

“terlambat berapa menit mbak?..” Tanya penjaga Kantor

“enggak dong pak, tadi pas banget 07.30 hahahha” tawa Chayati sembari berlenggang menuju ruang paling ujung, ruang pantry.

Seperti biasa Chayati selalu menyempatkan berbincang dengan rekan kerja di Kantor Cabang Gorontalo sebelum mulai bekerja. Tawa para pegawai sampai terdengar hingga ruang depan. Mereka sedang membicarakan teman kerjanya yang dikejar anjing saat mereka sedang mengadakan survei tempo hari. Cukup menggelitik.

Jam tepat menunjukan pukul 08.00 Chayati bergegas menuju ruang kerjanya. Seperti biasa, Chayati mengawali hari kerjanya dengan membuka email masuk. Chayati senang bukan kepalang. Surat permintaan mutasinya diterima setelah berkali-kali ditolak. Chayati berlari menuju Nanda teman kerjanya.

“Nanda, nda,,, coba tebak aku dapat email apa?” tanya Chayati girang

“yaelaaa, paling email jadwal survei yang deadline bulan ini kan?” jawab Nanda

“bukan.. aku barusan dapat email persetujuan mutasi, aku akhirnya mutasi kepusat, . .  yyeeaaaayyyy aku ke Jakarta” teriak Chayati girang

“hah? Beneran? Waaaah selamat ya mbak, aku ikut senang..” jawab Nanda senang, sembari memeluk Chayati.

Mutasi ke Kantor Pusat memang salah satu cita-cita Chayati semenjak ia menikah, pasalnya sudah hampir 1 tahun Chayati harus tinggal berpisah dari suaminya yang bekerja di Tangerang, satu daratan dengan kantor pusat. Tak perlu waktu lama untuk Chayati menghubungi suaminya, Khairul, untuk mengabari satu satunya berita yang mereka impikan

“mas, ada kabar gembira” ucap Chayati

“apa dek?” jawab Khairul singkat

“ade mutasi ke Kantor pusat mulai 1 mei mas…” jelas Chayati

 “ini.. ini nggak bohong kan dek? Mas ga mimpi kan??” jawab Khairul tidak percaya

“iya maas, akhirnya kita bersama mas..” jelas Chayati

“selamat ya dek, mas susul kamu 30 april malam di Gorontalo, kamu siap-siap” ucap Khairul yang lega akan melepas LDR

Mendapatkan Mutasi ke Kantor Pusat bukan satu satunya kebahagiaan yang Chayati rasakan, tepat 1 bulan Chayati bekerja di Jakarta, Chayati hamil.

“Chayati, kok kamu pusing-pusing terus?” Tanya Daulay

“iya mbak, saya gak tau kenapa” jawab Chayati lemas

“cepat pergi ke klinik di lantai dasar, siapa tau kamu sakit” suruh Daulay

“tidak mbak, ini pusing biasa, kuoles minyak angin juga sebentar lagi sembuh mbak” jawab Chayati lagi

“atau jangan jangan….” Kalimat Daulay terhenti

“jangan-jangan apa mbak ih..” sahut Chayati cemas

“kamu hamil… iya kamu hamil.. soalnya saya perhatikan kamu lemas terus akhir akhir ini” kata Daulay yakin

“palingan bukan lah mbak” tutup Chayati sambil berdiri pergi menuju mesin kopi di meja ruang tengah kantor.

“sssrrrrrrr….” Mesin kopi berbunyi, Chayati menuangkan creamer ke dalam gelas yang sudah terisi kopi panas. Sambil mengaduk kopi diam-diam Chayati memikirkan perkataan Daulay.

“jangan jangan benar kata mbak Daulay, waaah harus cepat di cek”

Sambil menikmati kopi, Chayati meraih Handphone untuk memesan testpack. Tak butuh waktu lama untuk testpack ada di tangannya, layanan pesan antar sekarang memang luar biasa cepat. Bergegas Chayati menuju Toilet. Harap-harap cemas Chayati berdoa “semoga benar ya Tuhan”.

2 garis merah perlahan muncul pada alat tersebut, terduduk Chayati, bersyukur, tetes air matanya mulai membasahi pipi. Diambilnya dua tisu, satu untuk mengelap air matanya yang sedang terharu, satunya lagi untuk membungkus testpack untuk diberikan Khairul selepas pulang kantor.

Jam menunjukan pukul empat sore, artinya kegiatan bekerja sudah selesai, watunya pulang. Berjalan Chayati melewati lorong ruangan kerjanya, sesekali ia menoleh untuk meyapa temannya.

“kriiiing..” Telpon berdering

“halo mas, ade baru aja mau pulang, ketemu 1,5 jam lagi ya di Stasiun Jurang Mangu” Chayati mengawali pembicaraan

“enggak perlu, mas sudah di bawah, cepat turun” jawab Khairul singkat

“waaah, okemas, adek antre lift bentar ya”  jawab Chayati bersemangat

Jika ada pekerjaan di Daerah Jakarta, sore harinya Khairul selalu menjemput istrinya pulang kantor. Saat saat itu membuat istrinya senang karena tidak perlu berdesak desakan di kereta untuk pulang kantor.

“maas…” seru Chayati sembali meraih tangan Khairul untuk dicium

“ayo masuk, kita pulang” ajak Khairul

“siap komandan” jawab Chayati singkat

Dalam perjalanan Chayati tidak sabar untuk menunjukan testpack yang ia bawa di dalam tas. Chayati melirik suaminya sambil senyum-senyum. Mengetahui hal itu lantas Khairul bertanya

“ada apa si dek, cuma dijemput aja seneng banget kamu” ledek Khairul

“hari ini lengkap banget, bahagianya adek dah melebihi full, apa ya istilahnya, lubeerr mas” jawab Chayati sambil menggenggam testpack

“ada apa sih? jadi penasaran” ucap Khairul

“nanti aja adek kasih tau pas sudah di kontrakan ya..” jawab Chayati

“iya deh, mas ngebut ni, hahahhaha” canda Khairul

“iiih jangan, santai aja jalannya, sambil menikmati jalanan” jawab Cayati sambil melongok keluar jendela.

Khairul tersenyum, perjalanan mereka menuju kontrakan sekitar 1 jam, terkadang ketika jalanan macet bisa sampai 2 jam perjalanan.

“assalamu’alaikum” seru Chayati saat membuka pintu kontrakan, mereka hanya tinggal berdua di  kontrakan itu.

“ayo dek bergegas siapkan makan malam, mas udah lapar hehe” ungkap Khairul

"siap mas.." jawab Chayati

Sembari menikmati makan malamnya Chayati menyodorkan bungkusan tisu berisi testpack ke Khairul, sambil bingung, Khairul membukanya. Mata Khairul memerah, mengucurlah air mata terharu di pipinya, tampaknya rasa terharunya tidak bisa ia tanggung sendiri, Chayati juga megucurkan air mata, Khairul memeluk Chayati sambil berbisik

“dek, mari kita bersyukur”