PERLUKAH KU BERFIKIR
“RUMIT”
“Mungkin ini adalah suatu hal yang
sebenarnya tidak layak untuk aku tanyakan kepada kalian temanku, tapi sungguh
ini sangat mengganggu fikiranku atas keduanya.”
Itu adalah kata kata yang selalu
diucapkan gadis manis acap kali dia curhat kepada sahabatnya, Tia. Semua yang
dia pikirkan saat ini mungkin hanyalah satu masalah yang teman temannya anggap
sepele tetapi tidak untuk vira, gadis berusia belia ini merasa berada dalam
perdebatan hebat perasaan antara senang dan sedih. “Vira” dia adalah mahasiswa
semester 3 yang baru saja ditampar oleh nilai IP semester 2 yang tidak
memuaskan di Universitasnya, Universitas Gajah Mada. Ditengah tengah
kegundahannya itu selalu ada sesosok pria yang slalu setia menemani akan hari
harinya dan selalu meninggalkan pesona bahagia
diwajahnya setiap kali mereka habis bertemu.
Saat itu vira sedang menangis hebat
di sudut kamar kosan yang agak lebar bila dibandingkan dengan kamar teman
temanya. maklum, vira adalah gadis yang sedikit egois, meskipun seperti itu dia
orang yang easy going sehingga tak heran bila sering terlihat adek
adek kelas meminta untuk tidur dikamarnya alias numpang belajar bareng. oya, satu lagi ini masih mengenai vira, dia
adalah termasuk juga anak yang ceroboh, eh bukan, tapi super duper ceroboh.
Bahkan hal yang sangat jarang sekali terjadi bahwa saat ujian didapati
kesalahan jawaban ujian karena membaca soal , bukan dalam hal pengerjaannya.
Tapi tidak untuk vira, all’s possible.
“mas, vira strees, tadi vira salah baca soal,
vira naik semester gak ya.. vira takut” terdengar celotehan manja vira yang
diselimuti dengan suara serak serak basah yang keluar bersama air mata yang
menetes.
“ya ampun sayang, kok bisa gitu, kamu hati
hati dong kalo baca, ya udaaah, kamu sekarang jangan pikirin itu lagi, yang
perlu kamu pikirin sekarang adalah gimana caranya agar hal seperti itu tidak
terulang kembali” jawab sang pacar alias si ayip penuh kedewasaan.
bagaimana tidak, ayip merupakan mahasiswa
semester 8 yang sebentar lagi merampungkan kuliahnya desember kelak. Entah
bagaimana mereka bisa bertemu. Konon katanya dia masih merupakan saudara dari
vira, “tapi saudara jauh kok”, mungkin itu jawaban semua orang jika ditanya
tentang mereka. pasalnya si vira sudah terkenal sekali di kampusnya kalau dia
menggaet seorang cowo, padahal lingkungan kampusnya adalah lingkungan yang
religius. tapi bukan sebuah penghalang besar untuk menghentikan kisah cinta
mereka. Toh mereka bukan dari kampus yang sama, jadi tak perlu khawatir di
tegur. Bela dia acap kali bicara tentang sang pacar.
“mamas, vira
ngerasa sendiri disini, vira capek dengan semua kegiatan vira, apa ini yang
dinamakan kuliah? Vira tak pernah merasa belajar atas kemauan sendiri kecuali
karena perasaan takut akan sistem DO yang tiap semeter di galangkan disini”.
“huuush,
jangan diteruskan vira, mas nanti sepulang kerja dateng ya ke kos kamu, mungkin
ba’da maghrib, vira tunggu mas ya, jangan sedih lagi”
“makasih
mamas,, mamas selalu yang terhebaaaaat” jawab vira semangat sambil menutup
telfon.
“huuu, mba vira ni payah, tinggal bilang aja napa pengen
ketemuan, pake bilang ngerasa sendiri lah, capek lah, emang mba vira ga liat
Rena disini nemenin mba, hmm” kata rena cepat setelah vira menutup telfon, rena
adalah seorang adek kelas yang lumayan dekat dengan vira.
“hahaha, kamu ni re, gua emang sering ga tahan kalo lama ga
ketemu, eh eh eh, napa lu yang sewot sii, dasar, sirik aja lu, huuuw” ledek
vira.
***
Segera vira
bergegas mandi untuk mempersiapkan pertemuannya dengan ayip. Vira sayang sekali
kepada ayip, ayip pun begitu. Saat itu tidaklah ada hal yang bisa membuatnya
terpisah. Sering sekali vira meminta pacarnya itu untuk datang ke kosannya
hanya untuk sekedar makan, vira juga
termasuk anak yang ga suka muluk muluk, mau
makan di restoran, di pinggiran, sampai di warteg pun vira mau. Katanya
si vira “asalpun sama mamas, vira mau diajak makan kemana aja”. Sampailah
keduanya di warung “Sate Kambing Muda” yang merupakan makanan favorit keduanya.
“vira
sayang, kamu kenapa vira, apa kamu lagi lagi ga konsen belajarmu? Apa semua ini
gara gara mas?” tanya ayip ke vira yang belum menjawab satupun atas
pertanyaaannya.
Terdiam vira
seribu bahasa sampai akhirnya vira mengeluarkan air matanya, tanpa banyak kata
ayip langsung menyodorkan bahunya untuk tumpuan kepala vira kalau saja dia
lebih merasa nyaman seperti itu. Agak lama vira menangis sampai akhirnya ayip
membujuk vira untuk mengeluarkan semua isi hatinya.
“mamas,
maafin vira ya mas kalo vira selalu ngecewain mas, vira kayaknya mahasiswi
statistisk paling bodoh di kampus vira. Mamas, vira takut, ajarin vira belajar
la, pliiis” kata vira sambil sedikit demi sedikit mengusap pipinya yang
terlanjur basah dengan airmatanya.
“ya vira,
mas pasti bantu kalo mas bisa, tapi kamu tau kan? Mas itu jurusa USG. Bukan
statistik, mas tapi akan tetap coba bantu. Mas akan lebih banyak nemenin kamu
belajar. Oke? Senyum dulu dong” bujuk
Ayip sambil mencubit kecil pipi vira.
Perbincangan mereka berlanjut hingga
malam hari di lanjutkan dengan pergi ke suatu taman kota deket kosan vira.
Tempat itulah yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, juga datangnya
sesosok lelaki lain yang hampir disandingkan sejajar dengan Ayip.
Waktu berjalan cepat sampai akhirnya
Vira merasa di acuhkan oleh Ayip, tepatnya Ayip telah membohongi vira akan janji untuk lebih banyak meluangkan
waktu buat Vira. pasalnya Ayip akhir akhir ini sibuk dengan perampungan
skripsinya. Sampai pada akhirnya vira dekat dengan salah seorang teman yang
dulu saat semester satu sempat satu kelas. Namanya Redi, vira lebih merasa
nyaman dengan Redi ketimbang Ayip. Redi lebih bisa banyak meluangkan waktu
untuk mengajari Vira, nemenin Vira, bahkan menjaga Vira saat dia sedang sakit.
Pada saat itu keduanya ada liburan semester 2 dan mereka memutuskan untuk
pulang bersama dengan kereta. Mulai dari saat itu vira merasa redi lebih
memperhatikannya, perhatian redi ke vira tidak seperti perhatian dia pada waktu
semester satu. Memang sih, dulu saat mereka semeter satu mereka sudah sempat
dekat. Vira terkenal dikelasnya anak yang paling usil ke redi, mereka selalu
seperti anjing dan kucing, tetapi mereka selalu saja terlihat sahabat dekat.
Pada saat vira dikampung redi selalu bisa mengisi waktu kosong vira dengan
mengirim sms sepanjang waktu. Suatu saat redi mengirim message ke vira yang
membuatnya agak canggung untuk menjawab.
“vira, kamu lagi apa? Kamu mau nemeni
aku ga? Aku lagi butuh kamu” isi sms redi.
“lagi tiduran ni, aelah kamu red,
kaya biasanya aku ga nemenin kamu. Wkwkwk” balasan vira dengan bahasa sedikit
alay.
“engga vir, aku serius, aku ga tau
kenapa lagi pengen sama kamu”
“apaan si kamu, nemenin gimana
maksudnya”
“ya kamu nemenin aku , dan aku
nemenin kamu, gituu, aku lagi banyak masalah ni”
“oalaa J , iya iya. Aku selalu bisa memberimu
waktu kok”
“makasih ya vir udah mau nemenin aku,
aku pengen cepet cepet ketemu kamu, yaudah vir, kamu tidur gi, ntar sakit lagi
begadang terus, bye vira, nice dream”
“iya, bye” jawab vira terakhir.
Saat itu terasa percuma vira cepat
cepat bersanding ditempat tidur, kenyataannya dia tidak kunjung bisa tidur.
Dalam pikirannya masih banyak menyisakan pertanyaan apa makna ajakan redi tadi.
Hari hari liburan dia dihiasi oleh perasaan sayang kepada redi, saat itu vira
mulai suka redi, tetapi dia masih memiliki hubungan dengan ayip. Dia tak begitu
tau dengan ayip, tak begitu mempedulikan ayip yang sedang bergelut dengan
skripsinya. Hingga sampai kepada vira menginginkan redi mengatakan bahwa dia
sebenarnya sayang vira. Pada suatu malam redi mengirim sms ke vira.
“hai vira, besok kita pulang kan ke
Jogja? Eh besok pagi kita ada acara Dies Natalis kampus kan? Setelah acara
usai, temui aku ya”
“iya, siap bos!” jawab vira.
Saat keduanya sudah kembali ke Jogja,
mereka bertemu di acara Dien Natalis kampus. Perasaan vira ingin cepat
menyelesaikan acara itu. Masalahnya dia ingin cepat mengetahui apa yang mau
redi katakan. Acarapun selesai, redi segera mengajak vira ke kosannya untuk
menemani dia. Perasaan vira saling simpang siur saat itu. Tibalah keduanya
dikosan redi. Redi langsung mengajak vira ke kamarnya. Hidangan kecil dan teh
hangatpun langsung disandingkan kepada vira.
“makasih red, tumben kamu baik bener
ma aku”
“halaaaah, biasa aja kali, ini gak
gratis ya, bone-nya ntar nyusul”
“sialaaan, aku ditipu dong” kata vira
Tak lama
setelah makan, vira menuju jendela kamar redi yang saat itu masih ditutup
padahal sudah siang. Redi mengikutinya dari belakang dan kemudian redi
menyalipnya dan tepat berhenti dihadapannya. Hening saat itu, redi mulai
memegang tangan vira.
Dan bicara “vir, aku tau aku gak seharusnya ngomong ini,
tapi aku gak bisa mendem ini lama lama, sebenernya "aku sayang kamu”,
“tapi red” potong
vira,
“tunggu, biarin aku nyelesein omonganku vir, aku mohon”pinta
redi.
“okey, okey” jawab
vira stay cool.
“vir,aku tau nantinya kau bisa marah ke aku, kamu bisa
ngejauhin aku. Terserah deh yang penting aku dah ngungkapin perasaan itu ke
kamu. Vir, aku ngrasa seneng banget kalo ada kamu, gimana ya, kamu tuh sering
manja sama aku, curhat tentang cowomu, aku jadi ngasih perhatian ebih ke
kamu”kata redi dengan berkaca kaca.
“akuu.. akuuu... aah..” jawab vira sambil berkucuran air mata
dan memeluk redii. Saat itu redi langsung memeluk erat tubuh vira dan membelai
rambut vira yang dia rasa memang vira sedang butuh kasih sayang, karena redi
tau akhir akhir ini hubungan dengan pacarnya tidak baik.
“udah vir, vir, kamu mau sharing sama aku?” tanya redi ke
vira sambil mengarahkan mata mereka tuk bertemu.
“he eh” jawab vira sambil mengusap air mata.
Setelah pertemuan itu si redi dan
vira makin sering bertemu dan smsan, sampai akhirnya sang pacar alias si ayip
membaca sms dari redi yang isinya ungkapan rasa sayang redi ke vira.
“vira sayang, ini sms dari redi?”
tanya ayip
“oh iya mas, maaf ya mas, vira gak
ngasih tau mas. Eemm, vira gak nerima redi jadi pacar vira kok, mas percaya
kan?”
“iya iya mas percaya, eh sekarang
hubungan kalian gimana?” tanya ayip
“apanya?? “jawab vira bingung
“ya makin jauh gak? setelah redi
nembak vira, dan vira nolak redi?”
“gak kok.. kan kita dah sahabatan
dari lama mas..”
“bagus deh kalo gak makin jauh”
“loh kok gitu, ih mas kenapa sih, tu
kan. Gak takut kehilangan vira..” jawab vira sebel
“tunggu duluu vira, mas kan belum
ngejelasiin, dulu tuh mas pernah nembak cewe dan dia nolak mas. Maksudnya cewe
sebelum kamu sayaaaang, jangan cemberut gitu dong..” jelas ayip sambil mencubit
cubit pipi vira.
“lha truuus? Masalahnya apa?” tanya
vira yang masih mikir mikir apa hubungannya dengan kisahnya dengan redi.
“la terus cewe itu tuh ngejauhin mas,
padahal mas udah biasa aja sikapnya, eeegh, mas jadi sebel deh, kamu jangan
gitu ya ke redi, ntar redi malah marah loh ma kamu” jawab ayip sambil mengacak
acak rambut vera.
“iya iya mas, mana mungkin vira
ngejauhin redi, orang redi tu sahabat vira dari lama” jawab vira sambil banyak
ngerasa bersalah, banget, amat, sangat ke ayip.
Hari hari berlalu dengan rasa
kesepian dan diacuhkan. Vira saat itu sangat membenci dan cemburu ke ayip
yang selalu pulang dengan motor berdua
bersama rekan kerjanya Saat itu entah apa yang sedang difikirkan fira, yang
jelas vira merasa lebih nyaman dengan redi. Mereka tiap harinya makin dekat
saja. Setiap berangkat ke kamps, mereka berangkat bersama, pulang pun selalu
bersama. Kalau redi belum keluar kelas vira selalu menunggu di halaman masjid.
Begitupun sebaliknya. Tak terasa ternyata banyak teman teman kampusnya
menyangka mereka telah berpacaran. Banyak yang bertanya pada vira, tapi vira
selalu menjawab bahwa mereka hanya teman baik.
Suatu hari si vira sakit panas, redi
segera membelikan bubur dan obat lengkap dengan multivitamin. Hal yang sama
sama pernah dilakukan oleh si ayip tetapi sangat beda perlakuannya. Ayip
cenderung tidak perhatian penuh, sebatas membelikan obat dan tidak bisa
menyempatkan untuk menjaganya. Sangat kontras dengan redi, redi terlihat sayang
sekali dengan vira sampai sampai dia terlihat sangat khawatir.
To be continued...