Red Bobblehead Bunny

Senin, 14 Januari 2013

cerpan - perlukah ku berfikir rumit?


PERLUKAH KU BERFIKIR “RUMIT”
“Mungkin ini adalah suatu hal yang sebenarnya tidak layak untuk aku tanyakan kepada kalian temanku, tapi sungguh ini sangat mengganggu fikiranku atas keduanya.”

Itu adalah kata kata yang selalu diucapkan gadis manis acap kali dia curhat kepada sahabatnya, Tia. Semua yang dia pikirkan saat ini mungkin hanyalah satu masalah yang teman temannya anggap sepele tetapi tidak untuk vira, gadis berusia belia ini merasa berada dalam perdebatan hebat perasaan antara senang dan sedih. “Vira” dia adalah mahasiswa semester 3 yang baru saja ditampar oleh nilai IP semester 2 yang tidak memuaskan di Universitasnya, Universitas Gajah Mada. Ditengah tengah kegundahannya itu selalu ada sesosok pria yang slalu setia menemani akan hari harinya dan selalu meninggalkan pesona bahagia  diwajahnya setiap kali mereka habis bertemu.

Saat itu vira sedang menangis hebat di sudut kamar kosan yang agak lebar bila dibandingkan dengan kamar teman temanya. maklum, vira adalah gadis yang sedikit egois, meskipun seperti itu dia orang yang easy going  sehingga tak heran bila sering terlihat adek adek kelas meminta untuk tidur dikamarnya alias numpang belajar bareng.  oya, satu lagi ini masih mengenai vira, dia adalah termasuk juga anak yang ceroboh, eh bukan, tapi super duper ceroboh. Bahkan hal yang sangat jarang sekali terjadi bahwa saat ujian didapati kesalahan jawaban ujian karena membaca soal , bukan dalam hal pengerjaannya. Tapi tidak untuk vira, all’s possible.

 “mas, vira strees, tadi vira salah baca soal, vira naik semester gak ya.. vira takut” terdengar celotehan manja vira yang diselimuti dengan suara serak serak basah yang keluar bersama air mata yang menetes.

 “ya ampun sayang, kok bisa gitu, kamu hati hati dong kalo baca, ya udaaah, kamu sekarang jangan pikirin itu lagi, yang perlu kamu pikirin sekarang adalah gimana caranya agar hal seperti itu tidak terulang kembali” jawab sang pacar alias si ayip penuh kedewasaan.

 bagaimana tidak, ayip merupakan mahasiswa semester 8 yang sebentar lagi merampungkan kuliahnya desember kelak. Entah bagaimana mereka bisa bertemu. Konon katanya dia masih merupakan saudara dari vira, “tapi saudara jauh kok”, mungkin itu jawaban semua orang jika ditanya tentang mereka. pasalnya si vira sudah terkenal sekali di kampusnya kalau dia menggaet seorang cowo, padahal lingkungan kampusnya adalah lingkungan yang religius. tapi bukan sebuah penghalang besar untuk menghentikan kisah cinta mereka. Toh mereka bukan dari kampus yang sama, jadi tak perlu khawatir di tegur. Bela dia acap kali bicara tentang sang pacar.

            “mamas, vira ngerasa sendiri disini, vira capek dengan semua kegiatan vira, apa ini yang dinamakan kuliah? Vira tak pernah merasa belajar atas kemauan sendiri kecuali karena perasaan takut akan sistem DO yang tiap semeter di galangkan disini”.

            “huuush, jangan diteruskan vira, mas nanti sepulang kerja dateng ya ke kos kamu, mungkin ba’da maghrib, vira tunggu mas ya, jangan sedih lagi”

            “makasih mamas,, mamas selalu yang terhebaaaaat” jawab vira semangat sambil menutup telfon.
“huuu, mba vira ni payah, tinggal bilang aja napa pengen ketemuan, pake bilang ngerasa sendiri lah, capek lah, emang mba vira ga liat Rena disini nemenin mba, hmm” kata rena cepat setelah vira menutup telfon, rena adalah seorang adek kelas yang lumayan dekat dengan vira.
“hahaha, kamu ni re, gua emang sering ga tahan kalo lama ga ketemu, eh eh eh, napa lu yang sewot sii, dasar, sirik aja lu, huuuw” ledek vira.

            ***
            Segera vira bergegas mandi untuk mempersiapkan pertemuannya dengan ayip. Vira sayang sekali kepada ayip, ayip pun begitu. Saat itu tidaklah ada hal yang bisa membuatnya terpisah. Sering sekali vira meminta pacarnya itu untuk datang ke kosannya hanya  untuk sekedar makan, vira juga termasuk anak yang ga suka muluk muluk, mau  makan di restoran, di pinggiran, sampai di warteg pun vira mau. Katanya si vira “asalpun sama mamas, vira mau diajak makan kemana aja”. Sampailah keduanya di warung “Sate Kambing Muda” yang merupakan makanan favorit keduanya.

            “vira sayang, kamu kenapa vira, apa kamu lagi lagi ga konsen belajarmu? Apa semua ini gara gara mas?” tanya ayip ke vira yang belum menjawab satupun atas pertanyaaannya.

            Terdiam vira seribu bahasa sampai akhirnya vira mengeluarkan air matanya, tanpa banyak kata ayip langsung menyodorkan bahunya untuk tumpuan kepala vira kalau saja dia lebih merasa nyaman seperti itu. Agak lama vira menangis sampai akhirnya ayip membujuk vira untuk mengeluarkan semua isi hatinya.

            “mamas, maafin vira ya mas kalo vira selalu ngecewain mas, vira kayaknya mahasiswi statistisk paling bodoh di kampus vira. Mamas, vira takut, ajarin vira belajar la, pliiis” kata vira sambil sedikit demi sedikit mengusap pipinya yang terlanjur basah dengan airmatanya.

            “ya vira, mas pasti bantu kalo mas bisa, tapi kamu tau kan? Mas itu jurusa USG. Bukan statistik, mas tapi akan tetap coba bantu. Mas akan lebih banyak nemenin kamu belajar. Oke?  Senyum dulu dong” bujuk Ayip sambil mencubit kecil pipi vira.

Perbincangan mereka berlanjut hingga malam hari di lanjutkan dengan pergi ke suatu taman kota deket kosan vira. Tempat itulah yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, juga datangnya sesosok lelaki lain yang hampir disandingkan sejajar dengan Ayip.

Waktu berjalan cepat sampai akhirnya Vira merasa di acuhkan oleh Ayip, tepatnya Ayip telah membohongi  vira akan janji untuk lebih banyak meluangkan waktu buat Vira. pasalnya Ayip akhir akhir ini sibuk dengan perampungan skripsinya. Sampai pada akhirnya vira dekat dengan salah seorang teman yang dulu saat semester satu sempat satu kelas. Namanya Redi, vira lebih merasa nyaman dengan Redi ketimbang Ayip. Redi lebih bisa banyak meluangkan waktu untuk mengajari Vira, nemenin Vira, bahkan menjaga Vira saat dia sedang sakit. Pada saat itu keduanya ada liburan semester 2 dan mereka memutuskan untuk pulang bersama dengan kereta. Mulai dari saat itu vira merasa redi lebih memperhatikannya, perhatian redi ke vira tidak seperti perhatian dia pada waktu semester satu. Memang sih, dulu saat mereka semeter satu mereka sudah sempat dekat. Vira terkenal dikelasnya anak yang paling usil ke redi, mereka selalu seperti anjing dan kucing, tetapi mereka selalu saja terlihat sahabat dekat. Pada saat vira dikampung redi selalu bisa mengisi waktu kosong vira dengan mengirim sms sepanjang waktu. Suatu saat redi mengirim message ke vira yang membuatnya agak canggung untuk menjawab.

“vira, kamu lagi apa? Kamu mau nemeni aku ga? Aku lagi butuh kamu” isi sms redi.
“lagi tiduran ni, aelah kamu red, kaya biasanya aku ga nemenin kamu. Wkwkwk” balasan vira dengan bahasa sedikit alay.

“engga vir, aku serius, aku ga tau kenapa lagi pengen sama kamu”
“apaan si kamu, nemenin gimana maksudnya”
“ya kamu nemenin aku , dan aku nemenin kamu, gituu, aku lagi banyak masalah ni”
“oalaa J , iya iya. Aku selalu bisa memberimu waktu kok”
“makasih ya vir udah mau nemenin aku, aku pengen cepet cepet ketemu kamu, yaudah vir, kamu         tidur gi, ntar sakit lagi begadang terus, bye vira, nice dream”
“iya, bye” jawab vira terakhir.

Saat itu terasa percuma vira cepat cepat bersanding ditempat tidur, kenyataannya dia tidak kunjung bisa tidur. Dalam pikirannya masih banyak menyisakan pertanyaan apa makna ajakan redi tadi. Hari hari liburan dia dihiasi oleh perasaan sayang kepada redi, saat itu vira mulai suka redi, tetapi dia masih memiliki hubungan dengan ayip. Dia tak begitu tau dengan ayip, tak begitu mempedulikan ayip yang sedang bergelut dengan skripsinya. Hingga sampai kepada vira menginginkan redi mengatakan bahwa dia sebenarnya sayang vira. Pada suatu malam redi mengirim sms ke vira.

“hai vira, besok kita pulang kan ke Jogja? Eh besok pagi kita ada acara Dies Natalis kampus kan? Setelah acara usai, temui aku ya”
“iya, siap bos!” jawab vira.

Saat keduanya sudah kembali ke Jogja, mereka bertemu di acara Dien Natalis kampus. Perasaan vira ingin cepat menyelesaikan acara itu. Masalahnya dia ingin cepat mengetahui apa yang mau redi katakan. Acarapun selesai, redi segera mengajak vira ke kosannya untuk menemani dia. Perasaan vira saling simpang siur saat itu. Tibalah keduanya dikosan redi. Redi langsung mengajak vira ke kamarnya. Hidangan kecil dan teh hangatpun langsung disandingkan kepada vira.

“makasih red, tumben kamu baik bener ma aku”
“halaaaah, biasa aja kali, ini gak gratis ya, bone-nya ntar nyusul”
“sialaaan, aku ditipu dong” kata vira

            Tak lama setelah makan, vira menuju jendela kamar redi yang saat itu masih ditutup padahal sudah siang. Redi mengikutinya dari belakang dan kemudian redi menyalipnya dan tepat berhenti dihadapannya. Hening saat itu, redi mulai memegang tangan vira. 
Dan bicara “vir, aku tau aku gak seharusnya ngomong ini, tapi aku gak bisa mendem ini lama lama, sebenernya "aku sayang kamu”,
 “tapi red” potong vira,
“tunggu, biarin aku nyelesein omonganku vir, aku mohon”pinta redi.
 “okey, okey” jawab vira stay cool.
“vir,aku tau nantinya kau bisa marah ke aku, kamu bisa ngejauhin aku. Terserah deh yang penting aku dah ngungkapin perasaan itu ke kamu. Vir, aku ngrasa seneng banget kalo ada kamu, gimana ya, kamu tuh sering manja sama aku, curhat tentang cowomu, aku jadi ngasih perhatian ebih ke kamu”kata redi dengan berkaca kaca.
“akuu.. akuuu... aah..” jawab vira sambil berkucuran air mata dan memeluk redii. Saat itu redi langsung memeluk erat tubuh vira dan membelai rambut vira yang dia rasa memang vira sedang butuh kasih sayang, karena redi tau akhir akhir ini hubungan dengan pacarnya tidak baik.
“udah vir, vir, kamu mau sharing sama aku?” tanya redi ke vira sambil mengarahkan mata mereka tuk bertemu.
“he eh” jawab vira sambil mengusap air mata.

Setelah pertemuan itu si redi dan vira makin sering bertemu dan smsan, sampai akhirnya sang pacar alias si ayip membaca sms dari redi yang isinya ungkapan rasa sayang redi ke vira.


“vira sayang, ini sms dari redi?” tanya ayip
“oh iya mas, maaf ya mas, vira gak ngasih tau mas. Eemm, vira gak nerima redi jadi pacar vira kok, mas percaya kan?”
“iya iya mas percaya, eh sekarang hubungan kalian gimana?” tanya ayip
“apanya?? “jawab vira bingung
“ya makin jauh gak? setelah redi nembak vira, dan vira nolak redi?”
“gak kok.. kan kita dah sahabatan dari lama mas..”
“bagus deh kalo gak makin jauh”
“loh kok gitu, ih mas kenapa sih, tu kan. Gak takut kehilangan vira..” jawab vira sebel
“tunggu duluu vira, mas kan belum ngejelasiin, dulu tuh mas pernah nembak cewe dan dia nolak mas. Maksudnya cewe sebelum kamu sayaaaang, jangan cemberut gitu dong..” jelas ayip sambil mencubit cubit pipi vira.
“lha truuus? Masalahnya apa?” tanya vira yang masih mikir mikir apa hubungannya dengan kisahnya dengan redi.
“la terus cewe itu tuh ngejauhin mas, padahal mas udah biasa aja sikapnya, eeegh, mas jadi sebel deh, kamu jangan gitu ya ke redi, ntar redi malah marah loh ma kamu” jawab ayip sambil mengacak acak rambut vera.
“iya iya mas, mana mungkin vira ngejauhin redi, orang redi tu sahabat vira dari lama” jawab vira sambil banyak ngerasa bersalah, banget, amat, sangat ke ayip.

Hari hari berlalu dengan rasa kesepian dan diacuhkan. Vira saat itu sangat membenci dan cemburu ke ayip yang  selalu pulang dengan motor berdua bersama rekan kerjanya Saat itu entah apa yang sedang difikirkan fira, yang jelas vira merasa lebih nyaman dengan redi. Mereka tiap harinya makin dekat saja. Setiap berangkat ke kamps, mereka berangkat bersama, pulang pun selalu bersama. Kalau redi belum keluar kelas vira selalu menunggu di halaman masjid. Begitupun sebaliknya. Tak terasa ternyata banyak teman teman kampusnya menyangka mereka telah berpacaran. Banyak yang bertanya pada vira, tapi vira selalu menjawab bahwa mereka hanya teman baik.

Suatu hari si vira sakit panas, redi segera membelikan bubur dan obat lengkap dengan multivitamin. Hal yang sama sama pernah dilakukan oleh si ayip tetapi sangat beda perlakuannya. Ayip cenderung tidak perhatian penuh, sebatas membelikan obat dan tidak bisa menyempatkan untuk menjaganya. Sangat kontras dengan redi, redi terlihat sayang sekali dengan vira sampai sampai dia terlihat sangat khawatir.
To be continued...





Tidak ada komentar:

Posting Komentar